Bandar Lampung — Pengalaman menjadi modal besar Mantan Komandan Korem (Danrem) 043 Garuda Hitam (Gatam) Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Amalsyah Tarmizi, S.I.P dalam usahanya berkompetisi menduduki kursi Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lampung.
Dunia olah raga bukan merupakan dunia yang baru bagi pensiunan Jendral TNI bintang satu ini. Dia pernah menjadi Komandan Kontingen Sumatera Selatan pada PON XV dan XVI. Selanjutnya di dunia sepak bola pernah memegang Sriwijaya FC sebagai Maneger, pernah juga menjadi Manager di Asian Games.
Di KONI sendiri Amalsyah pernah menjabat sebagai Kabid Binpres KONI Sumatera Selatan tahun 2004-2008, dan saat ini menjabat sebagai Wasekjen Pengurus Besar Persatuan Judo Se Indonesia (PB PJSI).
Amalsyah mengungkap alasan dirinya mencalonkan diri sebagai Calon Ketua KONI Lampung selain karena merasa memiliki pengalaman yang cukup, ia ingin mengabdikan diri pada kampung halaman pasca dirinya telah menjadi purnawirawan.
“Yang pertama saya saat ini sudah purnawirawan. Saya berkeinginan pulang kampung, dan mengabdikan diri untuk Lampung,” kata Amalsyah, Sabtu (4/2/2023).
Amalsyah juga membeberkan, dirinya sudah berkomunikasi kebeberapa cabang olah raga (cabor) atau pemilik suara di KONI, dan saat ini sudah mengantongi 20 dukungan.
“Sudah ada 20 dukungan yang masuk ke saya, dan untuk yang tertulis ada tiga yaitu KONI Lampung Timur, Squash, dan Panjat Tebing,” bebernya.
Ia pun menjelaskan beberapa langkah konkrit baik jangka panjang atau jangka pendek apabila dia terpilih sebagai Ketua KONI Lampung dalam mengejar target Lampung masuk 5 besar pada klasemen perolehan medali PON.
“Untuk jangka pendek, pelatda (pemusatan latihan daerah) harus sudah kita mulai. Yang kedua kita panggil cabor-cabot potensial, kita bantu supaya ada pendekatan khusus pada masing-masing PB (Pengurus Besar) yang menyelenggarakan pelatnas (pemusatan latihan nasional) Kita bisa masukin atlet-atlet kita disana untuk bisa dapat jam terbang yang cukup,”
“Sebenernya medali emas itu sudah bisa diproyeksi dari sebelum PON dimulai, inventaris saja berapa atlet kita yang ikut pelatnas. Kalau sudah ikut pelatnas ya sudah bisa diproyeksi minimal dapat medali,” ungkapnya.
Namun memang menurutnya untuk mengejar target 5 besar pada PON tidak instan, kecuali Lampung mampu mengambil atlet dari luar daerah yang sudah jelas biayanya mahal.
“Maka dari itu kalau memang mengejar target 5 besar harus serius dan cepat melakukan pemusatan latihan untuk para atlet dan KONI melakukan komunikasi kepada beberapa stakeholder,” ungkap Amalsyah.
Sedangkan untuk proyeksi jangka panjang ia ingin menciptakan atlet standar olimpiade. Menurut Amalsyah hal yang sangat mungkin bisa diraih dimana sumber daya manusia di Lampung cukup melimpah, hanya saja butuh pendampingan khusus bagi para calon atlet.
“Ada penelitian yang mengatakan untuk menciptakan atlet standar olimpiade di butuhkan waktu 14 sampai 15 tahun, sedangkan Golden Age seorang atlet khususnya atlet bela diri di usia 25 tahun. Artinya kita harus melakukan pendampingan khusus dimulai dari anak 8 tahun kalau mau jd atlet olimpade,” jelasnya.
Untuk diketahui KONI Lampung membuka pendaftaran hingga Minggu (5/2/2023), pengembalian formulir dan berkas yang 6-14 Februari 2023, perbaikan dan kelengkapan berkas15-16 Februari 2023, terakhir verifikasi dan validasi 17 Februari 2023.
Para calon akan bertarung meraih dukungan lewat Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) KONI Lampung yang rencana digelar 20 Februari 2023 untuk mencari pengganti Yusuf Barusman.

Komentar