Sang Juara Baca Alquran Rawat Kakaknya Seorang Diri

Bandarlampung- Muhammad Arya (14) salah satu siswa berprestasi di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negri 32 Bilabong Bandarlampung. Ia sudah 3 kali juara membaca Alquran. Namun, siapa sangka, dibalik prestasi yang diraih, ada luka yang mendalam dalam kehidupannya.

Ya, warga Jalan Bungur RT 1 Lingkungan 2 Langkapura, Kemiling Bandarlampung ini harus membagi waktu antara sekolah dan mengurusi kakaknya yang sedang sakit.

Anak ketujuh dari sembilan bersaudara ini sudah tak memiliki ibu kandung yang telah meninggal 3 tahun lalu karena penyakit stroke. Semasa masih ada ibunya, sang ayah telah bercerai dan meninggalkan istri dan dua anaknya.

“Saat orangtua saya cerai, kami tinggal bertiga dengan ibu dan kakak tiri saya Riski (21). Kakak saya yang lain beda bapak sudah pada menikah dan meninggalkan rumah ini. Pas ibu saya meninggal, saya hanya berdua sama kakak saya (Riski, red),” ungkap Arya.

Di kala teman sebayanya sibuk bersekolah atau bermain, Arya harus menjalani kehidupan yang berbeda. Siswa dari kelas sembilan harus mengurus kakak tirinya seorang diri yang mengalami keterbelakangan mental dan keterbatasan fisik sejak lahir.

Kehidupan yang berat ini sudah dijalankan Arya selama hampir 3 tahun, sejak ibunya meninggal karena stroke. Arya mulai merawat kakaknya, memandikan, menyuapi dan sekaligus memberikan kasih sayang sebagai penganti ibu di sebuah rumah semi permanen.

“Saya inget dulu ayah ibu sering ribut, lalu ayah pergi sampai sekarang nggak pulang. Ayah dari kecil nggak pernah ngurusin sama sekali, tidak peduli sama kami jadi ibu itu saya anggap dua sosok ayah dan ibu,” kenang Arya.

Anak yang sudah 3 kali juara membaca Al-Quran itu mengaku memenuhi kehidupan sehari-hari dari bantuan seorang kakak perempuannya. Namun, tak jarang para tetangga memberi bantuan ala kadarnya, karena bantuan dari kakaknya untuk uang jajan sekolah.

“Kadang mbak saya yang suka ngasih uang jajan buat sekolah, kalau makan kadang suka dikasih sama tetangga, bantu saya tiap hari bisa makan,” tuturnya.

Sebagai seorang yang disiplin dan mandiri, sejak pagi Arya sudah bangun untuk memandikan serta mengantikan popok kakaknya dan memberikan Riski sarapan. Setelah urusan pagi selesai, Arya melanjutkan kegiatannya menyiapkan seragam sekolah. Meski harus menanggung beban yang begitu berat, kondisi itu tidak menyurutkan semangatnya untuk menuntut ilmu di sekolah.

“Harapan saya ingin sekolah setinggi tingginya, sampai dengan kuliah. Saya punya cita cita ingin jadi Pegawai Negeri, supaya bisa terus mengurus kakak saya, supaya nanti bisa mengobati kakak,” imbuhnya.

Ketika sedang belajar di sekolah pun, perhatian Arya tak lepas dari kakaknya yang ditinggal dirumah sendirian dan dikunci dari luar, ia merasa ingin lekas sampai dirumah agar segera bisa bertemu dengan Riski untuk melihat kondisinya.

“Saya sedih banget melihat kondisi kakak saya, kalau di sekolah suka kepikiran, nggak fokus belajarnya karena dia (Riski) sendirian dirumah. Nggak ada yang jaga dia, terkadang gitu, kalau saya pulang sampai dirumah dia udah jatuh sudah luka luka,” kata Arya sambil sesekali mengusap air mata.

Pernah terbesit dalam benaknya, ada rasa iri dari kehidupan orang lain yang memiliki keluarga lengkap, berkecukupan serta bisa menikmati masanya bermain sepulang sekolah. Arya memiliki rasa ingin marah, dan menyalahkan ketidak adilan hidup. Namun pikiran buruk itu surut, kala memandang Riski bahwa hidup itu terus maju dan harus dijalani.

“Saya pernah merasa nggak kuat, pernah timbul bahwa Tuhan itu nggak adil. Tapi saya bersyukur masih diberikan kehidupan, dan Tuhan memberikan cobaan seperti ini kepada saya karena saya kuat,” kata Arya sambil berlinang air mata.

Meski Arya merasa Riski tidak mungkin bisa sembuh, namun ia tetap ingin kakak dari Ayah tiri nya itu bisa mendapatkan pengobatan. Untuk mengobati luka luka yang ada di sekujur kakinya akibat jatuh dari kasur.

“Kak Riski kan punya darah manis, jadi kalau ada luka kecil lama lama menjadi besar. Sehingga saya¬† ada permohonan kepada pemerintah untuk memberikan perhatiannya dari segi bantuan medis, karena kakak saya layak untuk mendapatkan itu,” harapnya.

Selain itu, kepada pemerintah Arya juga berharap mendapatkan perbaikan rumah dan bantuan pendidikan, mengingat sebentar lagi ia akan mengenyam bangku pendidikan Sekolah Menengah atas.

“Saya sebenarnya dalam benak saya minta tolong kakak saya ini mendapat perhatian dan kasih sayang dari keluarga, bukan hanya dari saya saja. Dan kepada pemerintah saya ingin rumah saya ini, bisa jadi layak dan juga saya ingin bisa bersekolah tinggi,” harapnya. (ard)

banner 250250

Komentar