oleh

Agusri: Saatnya Politisi Ambil Bagian di Sastra

Bandarlampung- Saatnya politisi ambil bagian di ranah sastra, khususnya puisi. Jika Chairil Anwar pernah berujar, yang bukan penyair tak ambil bagian. Justru kini saatnya politisi naik panggung ikut meramaikan guna memasyarakatkan karya sastra.

Hal itu dikatakan Direktur Lamban Sastra Isbedy Stiawan (LSIS) sekaligus ketua pelaksana panggung Politisi Baca Puisi, Agusri Junaidi, hari ini. Rabu (24/07)

Penyair “Binatang Jalang” berkata begitu, mungkin kala itu puisi masih barang ‘mewah’ dan seni masih dimaknai untuk seni (art for art). “Tetapi kini kan setiap orang bisa menulis puisi. Siapa pun bisa menjadi penyair (sastrawan) jika karyanya memenuhi kriteria sastra,” kata Agusri.

Untuk memasyarakatkan karya puisi dia mengajak politisi mencintai puisi, pihaknya menggelar baca puisi dengan mengusung tema “Membaca Kembali Indonesia di Lamban Sastra Jalan Raden Saleh Tanjungsenang, Bandarlampung, Sabtu, 3 Agustus 2019 mulai pukul 19.30.

Sebanyak 32 politisi diundang, dan konfirmasi terakhir 26 Juli 2019. Tetapi imbuh Agusri, politisi yang sudah menyatakan siap, di antaranya Yuhadi Shi, Siti Rahma, Yozi Rizal, Ade Utami Ibnu, Rakhmat Husen, Muchlas E Bastari, Akhmadi Sumaryanto, Himawan Imron, Patimura, Abdullah Fadri Auly, Mingrum Gumay, Andika Wibawa, Gindha Ansori Wayka, Rosdiana, Apriliati, Aep Saipudin, Rahmad Mirzani Djausal, dan lain-lain.

Sementara pengampu Lamban Sastra, Isbedy Stiawan ZS, menilai panggung sastra ini telah membuat ‘virus’ positif di kalangan politisi. Beberapa di antaranya sudah membuat puisi untuk dibacakan. Seperti Ade Utami Ibnu dan Muchlas E Bastari.

“Panggung sastra ini memang bebas bagi politisi memilih puisi untuk dibacakan. Boleh karya sendiri, bisa juga memilih dari puisi yang disediakan panitia,” ujar penyair berjuluk Paus Sastra Lampung ini.

Ditambahkannya, kalau ini virus ya virus positif. Setidaknya para politisi berlomba membuat karya puisi. “Jangan dicap baik atau buruk. Mereka mau menulis puisi saja sudah bagus,” lanjut Isbedy.

Apalagi, kata dia, sekarang siapa pun boleh ambil bagian dalam dunia sastra (puisi). Yang bukan penyair juga boleh menulis puisi. 

“Persoalan puisinya itu sudah layak disebut puisi atau baru rangkaian kata dari apa yang akan dikatakan, itu soal lain. Soal jam terbang, penguasaan bahasa, mahir memilih kata yang kuat dan puitik (diksi) dan mampu menghidupkan kalimat dan bait dengan imajinasi, metafora,ironi, hyperbola, interpretasi, dan struktur puisi: enjambemen, dan sebagainya,” kata Isbedy.

Komentar