oleh

Kalau Mau Kaya (Jangan) Dipolitik

Bandarlampung- Genderang pesta demokrasi lima tahunan tinggal hitungan minggu lagi, baik paslon 01 maupun 02 terus melakukan sosialisasi program lima tahun ke depan, maupun langkah strategis bagi para calon pemilih agar percaya memilih mereka.

Pesta lima tahunan tersebut sangat menyita baik waktu, pikiran bahkan tenaga, hanya untuk mensosialisasikan paslon, tak ayal dalam runutan waktu tersebut berbagai macam peristiwa dan kenangan pun terjadi, macam adu strategi, adu gagasan, pun kadang banyak pula yang adu kebohongan melalui informasi-informasi yang hanya dirinya dan pengikutnya yang mengiyakan.

Ranah politik ini, berbagai partisipan bagi para pendukung untuk terus berkampanye menyuarakan visi dan misi program kerja dari paslon yang ia dukung, entah kenapa terbesit dalam pikiran ku untuk mengevaluasi atau sekedar beropini bahwa sebetulnya ranah ini tak lain dan tak bukan hanya kekuasaan semata.

Ada pendukung yang memang militan terhadap paslon yang ia dukung, ada juga pendukung yang sekedar ingin tampil supaya di elu-elukan oleh orang lain, ada pula pendukung yang berharap sesuatu dari paslon yang ia dukung bahkan ada pendukung yang sekedar hanya mencari untung, serta yang terakhir ada pendukung yang berharap negara ini dipimpin oleh pemimpin yang benar, banyak macam memang, kesemuanya tergantung niat dan cara masing-masing.

Pernah 2017 silam, ketua umum salahsatu partai politik dalan pidatonya, kalau mau kaya jangan jadi politisi, mending berhenti berpolitik, jadilah seorang pengusaha tulen supaya sukses dalam usaha yang digeluti.

Menurutku pada saat ini, politik erat sekali hubungannya dalam ekonomi, sebab kebijakan politik bisa mempengaruhi kebijakan ekonomi, tak sedikit seorang pengusaha harus rela menyisihkan keuntungannya agar menyuarakan paslon yang ia dukung supaya usaha yang di jalankan tak berimbas negatif pada kebijakan seorang pemimpin ke depan.

Sebetulnya syah-syah saja, namun terkadang seorang pemimpin harus rela dipaksa membuat kebijakan yang keberpihakannya hanya untuk para pengusaha yang sebelumnya mendukung bukan kebijakan dari rakyat yang memilihnya, miris memang tapi itulah namanya politik.

Sebagai rakyat biasa, bukan kalangan berpengaruh apalagi pengusaha, harapan saya sebetulnya cuma ingin perubahan, perubahan yang lebih baik, tidak sekarang dirasakan minimal beberapa tahun ke depan, mungkin sama yang diharapkan oleh banyak orang agar Indonesia Maju, Indonesia yang punya rasa Optimis dan Indonesia yang terus diakui oleh negara lain, bukan Indonesia yang berprilaku dan berbijak pada barometer usang. Tabik…
(Deni Haddad)

Komentar