Talkshow Edukatif Hari Kesehatan Dunia, Ajak Masyarakat Peduli Kesehatan Mental di Lingkungan Rumah Sakit dan Masyarakat

Bandar Lampung – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Dunia, talkshow edukatif bertema **“Mental Sehat, Hidup Produktif: Bersama Wujudkan Kepedulian Kesehatan Mental di Lingkungan Rumah Sakit dan Masyarakat”** mengangkat pentingnya kesadaran, kepedulian, dan dukungan terhadap kesehatan mental. Kegiatan ini menekankan bahwa kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kualitas hidup, produktivitas, serta keberlangsungan pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu. Melalui tema *“Pengalaman Hidup Didengar, Suara Nyata untuk Perubahan Nyata”*, peserta diajak memahami bahwa upaya menjaga kesehatan mental perlu dimulai dengan kesediaan untuk mendengarkan pengalaman individu tanpa menghakimi.

Dalam pemaparannya, dr. Alfia Rifanti, Sp.KJ., M.MR., Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSUD Abdul Muluk Provinsi Lampung, menyoroti kerentanan kesehatan mental yang dapat dialami tenaga kesehatan dan karyawan rumah sakit. Beban kerja yang tinggi, jam kerja panjang, tekanan emosional, serta tuntutan profesional untuk selalu tampil kuat dapat menyebabkan kelelahan mental yang kerap tidak terungkap. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu, tetapi juga berpotensi memengaruhi konsentrasi, kinerja, dan mutu pelayanan kepada pasien. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan kerja yang suportif dan memberikan ruang aman bagi tenaga kesehatan untuk menyampaikan kesulitan menjadi bagian penting dalam membangun pelayanan yang lebih berkualitas.

Talkshow ini juga membahas pentingnya mengenali tanda-tanda gangguan kesehatan mental sejak dini. Perubahan suasana hati yang menetap, mudah tersinggung, kecemasan berlebihan, kesulitan berkonsentrasi, gangguan tidur, keluhan fisik yang berulang, kecenderungan menarik diri, serta penurunan performa kerja perlu mendapat perhatian apabila mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Masyarakat diingatkan agar tidak terburu-buru memberikan penilaian atau menganggap kondisi tersebut sebagai kelemahan pribadi. Sebaliknya, pendekatan empatik melalui kesediaan mendengarkan, memberikan ruang untuk bercerita, dan mendorong akses terhadap bantuan profesional merupakan langkah penting untuk mencegah seseorang menghadapi persoalannya seorang diri.

Selain aspek individual, pembahasan turut menekankan peran budaya organisasi dan lingkungan sosial dalam mendukung kesehatan mental. Rumah sakit diharapkan membangun komunikasi yang terbuka, mengembangkan dukungan antarrekan kerja (*peer support*), serta mendorong pimpinan untuk peka terhadap tanda-tanda kelelahan mental. Di lingkungan masyarakat, stigma seperti anggapan bahwa seseorang yang mengalami masalah kesehatan mental merupakan pribadi yang lemah atau sekadar mencari perhatian perlu dihilangkan. Keluarga, rekan kerja, dan komunitas dapat berkontribusi dengan menjadi pendengar aktif, memberikan dukungan tanpa diskriminasi, serta membantu individu memperoleh layanan kesehatan jiwa yang sesuai dengan kebutuhannya.

Melalui talkshow edukatif ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa mencari bantuan profesional bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan kualitas hidup. Penanganan kesehatan mental dapat melibatkan konseling, psikoterapi, dan farmakoterapi sesuai hasil penilaian profesional serta kebutuhan masing-masing individu. Pesan utama kegiatan ini adalah bahwa perubahan nyata dapat dimulai dari tindakan sederhana, yaitu mendengarkan dengan empati, menghargai pengalaman hidup seseorang, dan menyediakan dukungan yang tepat. Dengan terbangunnya rumah sakit yang suportif dan masyarakat yang peduli, kesehatan mental diharapkan semakin dipahami sebagai tanggung jawab bersama dalam mewujudkan kehidupan yang sehat, produktif, dan bermartabat. (*)

Komentar