Ramadhan dalam Sunyi: Ketika Kehilangan Menjadi Jalan Iman

(Refleksi atas Berpulangnya Istri tercinta)

Oleh : Syarief Ediansah

Ramadhan tahun ini datang dengan cara yang berbeda. Ia hadir tanpa hiruk-pikuk batin, tanpa antusiasme yang biasanya tumbuh sejak pengumuman awal puasa. Di rumah ini, sunyi terasa lebih panjang. Bukan karena tidak ada suara, tetapi karena ada satu suara yang tak lagi kembali. Belahan jiwa saya berpulang pada 22 Januari 2026—sebuah tanggal yang kini menetap sebagai penanda: sebelum dan sesudah.Sejak hari itu, waktu seperti berjalan dengan langkah yang lebih pelan. Kalender tetap berganti, pekerjaan tetap menuntut, dan dunia di luar sana terus berputar seperti biasa. Namun di dalam rumah, ada jeda yang tak bisa diisi. Meja makan tetap ada, sajadah masih tergelar, tetapi kehadiran yang selama ini membuat semuanya terasa utuh, kini tinggal kenangan. Ramadhan datang menyapa ruang kosong itu.

Secara jurnalistik, kehilangan adalah fakta. Ada tanggal, ada peristiwa, ada kronologi. Namun bagi yang menjalaninya, kehilangan adalah perasaan yang tidak tunduk pada garis waktu. Ia bisa muncul tiba-tiba saat azan subuh berkumandang, saat gelas air di meja berbuka hanya satu, atau saat tangan meraih ponsel untuk mengabarkan sesuatu—lalu ingat, tak ada lagi yang menunggu kabar itu. Fakta 22 Januari 2026 tidak berhenti pada hari itu; ia berlanjut, menetes, dan ikut berpuasa bersama hari-hari setelahnya.

Ramadhan mengajarkan menahan diri, tetapi kehilangan mengajarkan menahan rindu. Di antara keduanya, iman diuji dengan cara yang paling hening. Tidak ada drama besar. Tidak ada teriakan. Hanya doa yang sering terhenti di tengah kalimat, karena dada terasa penuh oleh nama yang sama disebut berulang-ulang. Dalam sunyi, ayat-ayat Al-Qur’an terasa lebih dekat—bukan karena dibaca lebih keras, melainkan karena dipahami dengan luka.

Sahur kini bukan lagi soal menu dan canda ringan. Ia menjadi ritual bertahan: memastikan diri tetap bangun, tetap makan secukupnya, tetap melanjutkan hidup. Rutinitas yang dulu sederhana kini memerlukan keberanian kecil. Bangun sahur sendirian bukan hanya soal menyiapkan makan, tetapi soal menerima kenyataan bahwa tidak ada lagi suara yang menanyakan, “Sudah bangun?” atau “Mau pakai apa hari ini?” Dapur tetap menyala, air tetap mendidih, tetapi percakapan tinggal gema. Di meja makan, satu piring terasa lebih jujur daripada dua. Ia tidak berpura-pura utuh.Azan magrib bukan hanya tanda berbuka, tetapi juga pengingat bahwa waktu tidak pernah berhenti untuk berempati. Ia tetap bergerak, memaksa kita untuk ikut melangkah, meski hati tertinggal beberapa langkah di belakang.

Di luar sana, dunia menjalankan Ramadhan seperti biasa. Masjid-masjid ramai, spanduk ucapan terpasang, dan jadwal buka puasa bersama beredar. Di dalam diri, Ramadhan menjadi perjalanan sunyi. Tadarus dilakukan perlahan, sering terhenti. Bukan karena lelah membaca, tetapi karena beberapa ayat terasa terlalu dekat dengan keadaan. Tentang sabar, tentang perpisahan, tentang janji pertemuan yang lain. Air mata jatuh bukan sebagai bentuk putus asa, melainkan sebagai respons paling manusiawi ketika iman bertemu kehilangan.

Di bulan yang suci ini, kehilangan menyingkap sisi lain dari iman. Bahwa percaya kepada Tuhan bukan hanya tentang menerima nikmat, tetapi juga tentang merawat duka dengan sabar. Bahwa ikhlas bukan berarti lupa, melainkan mengizinkan rindu tinggal tanpa merusak keyakinan. Dalam setiap sujud, ada usaha untuk meletakkan beban—walau sering kali beban itu diambil kembali saat bangkit berdiri. Ramadhan dalam sunyi perlahan mengubah cara memandang cinta. Cinta tidak lagi hadir sebagai kebersamaan fisik, tetapi sebagai kesetiaan doa. Setiap sedekah menyebutkan satu niat yang sama. Setiap rakaat menyelipkan satu nama yang sama. Tidak ada lagi percakapan, tetapi ada komunikasi yang lebih panjang: antara hamba dan Tuhannya, tentang seseorang yang telah dipanggil lebih dulu. Dibulan Ramadhan ini juga mengajarkan makna menahan yang lebih luas. Bukan hanya lapar dan dahaga, tetapi juga keinginan untuk kembali ke hari-hari sebelum 22 Januari 2026. Menahan diri untuk tidak mengulang-ulang kenangan yang sama, meski rindu terus mengetuk. Menahan pertanyaan-pertanyaan yang tidak punya jawaban selain “Allah lebih mengetahui.” Dalam latihan menahan itu, iman diuji tanpa sorak-sorai, tanpa saksi, tanpa panggung.

Tanggal 22 Januari 2026 menjadi arsip pribadi yang tak bisa ditutup. Ia adalah fakta yang harus diterima, namun juga amanah untuk dijaga dengan iman. Ramadhan memberi ruang untuk itu—ruang untuk berduka tanpa merasa bersalah, ruang untuk menangis tanpa kehilangan harap, dan ruang untuk percaya bahwa perpisahan di dunia bukanlah akhir dari segalanya. Didalam tanggal ini juga diajarkan bahwa dia bukan sekadar penanda duka, tetapi titik tolak perubahan. Ia mengajarkan bahwa cinta tidak berhenti saat seseorang berpulang. Cinta hanya berpindah bentuk. Dari kehadiran menjadi doa. Dari percakapan menjadi zikir. Dari kebersamaan menjadi niat-niat baik yang disematkan pada sedekah dan amal kecil. Setiap kebaikan yang dilakukan di bulan ini selalu membawa satu nama yang sama—disebut pelan, diserahkan sepenuhnya.

Ramadhan dalam sunyi akhirnya mengajarkan satu hal penting: bahwa kehilangan tidak selalu menjauhkan manusia dari Tuhannya. Pada banyak kasus, ia justru menjadi jalan yang paling lurus—meski terasa sempit dan berat. Jalan iman yang tidak ramai, tidak dipamerkan, dan tidak selalu tampak kuat. Jalan yang dilalui dengan langkah kecil, dengan napas yang sering terputus, tetapi dengan arah yang jelas. Ramadhan ini mungkin tidak menghadirkan kebahagiaan yang utuh. Namun ia menghadirkan kesadaran yang lebih dalam: bahwa hidup tidak pernah menjanjikan kelengkapan abadi, dan iman tidak tumbuh dari keadaan yang selalu nyaman. Di antara sahur yang sepi, berbuka yang sederhana, dan doa-doa yang lirih, iman itu tetap bergerak. Pelan. Tertatih. Tetapi terus berjalan—menuju cahaya, sambil membawa rindu yang telah diserahkan sepenuhnya kepada Yang Maha Mengetahui.

Pada akhirnya, sunyi tidak selalu berarti kosong. Di dalamnya, iman menemukan bentuknya yang paling jujur. Tidak lantang, tidak pamer, tidak tergesa-gesa. Ia tumbuh pelan, lirih, bersama rindu yang diserahkan kepada Yang Maha Mengetahui. Ramadhan ini mungkin tidak menghadirkan kebahagiaan yang utuh, tetapi ia menghadirkan ketenangan yang lebih dalam: keyakinan bahwa kehilangan, seberat apa pun, dapat menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Tuhan.

Dan di antara sahur yang sepi serta berbuka yang sederhana, iman itu terus berjalan—pelan, tertatih, namun tetap menuju cahaya.

Selamat Melanjutkan Perjalan Belahan Jiwaku….
Khusosin Li ruh Bunda Nina Yuannita Alfatihah….

Komentar